Kamis, 21 Oktober 2010

Renungan buat kita by the zerOz band

“Kalau keabadian itu ada, Aku
ingin tak mati. Akan tetapi
tidak ada keabadian di dunia
ini ”.

Dr. Harldson Hoffen, seorang
dokter di sebuah rumah sakit,
suatu ketika
mempresentasikan hasil
risetnya di depan lembaga
Amerika untuk para dokter,
ahli bedah dan kalangan
industriawan.
Saat itu ia mengatakan bahwa
ia telah meneliti kondisi
seratus tujuh puluh enam
eksekutif. Usia mereka rata
rata 44 tahun. Ternyata lebih
dari sepertiga para eksektutif
itu menderita satu dari tiga
penyakit yang disebabkan oleh
ketegangan jiwa.
Tiga penyakit itu adalah
kerusakan jantung, gangguan
lambung dan gangguan
tekanan darah.
Yang demikian itu terjadi saat
mereka belum sampai 45
tahun. Apakah orang yang
membayar keberhasilannya
dengan gangguan lambung
dan kerusakan jantung bisa
dianggap sebagai orang yang
sukses?
Apa gunanya mengumpulkan
dunia dengan mengorbankan
kesehatannya? Walaupun
seseorang memiliki dunia
seluruhnya, dia tidak dapat
tidur kecuali di atas satu
tempat tidur saja. Dia pun tidak
bisa makan kecuali tiga kali
sehari. Lalu apa bedanya
antara dia dengan pekerja
kasar?
Bahkan boleh jadi para pekerja
kasar itu bisa tidur lebih
nyenyak dan lebih menikmati
makanan ketimbang para
eksekutif yang memiliki
kedudukan.
Dr. W.S. Fritz mengatakan :
“ Empat dari lima orang yang
sakit tidak disebabkan oleh
kerusakan fisik, tapi penyakit
mereka ditimbulkan oleh
ketakutan, gelisah, kebencian,
ketidakmampuan
menyesuaikan diri dengan
kehidupan, dll.
Kita tidak kuasa mengubah
masa lalu dan melukis masa
depan sesuai dengan
keinginan kita. Lalu, mengapa
kita membunuh diri sendiri
dengan bersedih atas sesuatu
yang tidak mungkin kita ubah?

0 komentar:

Posting Komentar